JAKARTA, Reportasexpost.com – Nasib tragis menimpa Dali, seorang pengendara motor roda dua yang mengalami kecelakaan tunggal di kawasan Meruya, Jakarta Barat. Peristiwa memilukan itu terjadi saat Dali berusaha menghindari pengendara lain yang tiba-tiba memotong jalannya pada tahun 2024.
Niat baik untuk mencegah kecelakaan justru berujung petaka. Dali kehilangan kendali atas motornya dan terjatuh keras ke aspal. Tubuhnya membentur jalan dengan hebat, membuatnya tak berdaya. Kejadian tersebut pukul 00.30 WIB dengan keadaan jalan yang sangat sepi.
Namun, kenyataan pahit harus diterima. Dokter menyatakan tulang ekor Dali mengalami benturan parah yang merusak saraf, hingga akhirnya ia divonis lumpuh total. Vonis itu seketika mengubah hidup Dali selamanya.
“Saya sangat kaget saat kejadian kecelakaan tunggal itu menimpa saya, saya tidak percaya awalnya dengan hasil dari rumah sakit yang menyatakan saya tidak bisa jalan lagi,” ungkapnya.
Kini, satu tahun telah berlalu sejak kecelakaan tersebut. Dali hanya bisa menjalani hari-harinya di rumah dengan keterbatasan yang menyakitkan. Ia tak lagi mampu menjalani aktivitas normal seperti sebelumnya. Bahkan, untuk buang air kecil pun, Dali harus bergantung pada kateter setiap hari akibat gangguan saraf yang dialaminya.
Kondisi ini bukan hanya menyiksa fisik, tetapi juga menguji mental dan ketegaran Dali serta keluarganya. Dari seorang pekerja keras, kini Dali harus berjuang menerima kenyataan hidup di atas keterbatasan, dengan harapan tipis akan kesembuhan.
“Saya ingin sembuh dan membantu istri saya mencari nafkah lagi semoga Allah SWT kabulkan doa saya,” tutur Dali.
Dali berharap dapat sentuhan dari pemerintah agar bisa menjalani pengobatan terapi karena keterbatasan biaya, dan kini yang membanting tulang untuk pengobatan Dali adalah istrinya.
“Saya berharap ada perhatian dari pemerintah agar meringankan beban istri saya dalam mencari nafkah dan biaya untuk pengobatan saya,” tutupnya.
Kisah Dali menjadi pengingat pahit bahwa satu detik di jalan raya dapat mengubah kehidupan seseorang untuk selamanya. Kehati-hatian dan kepedulian bersama di jalan bukan sekadar aturan, melainkan soal kemanusiaan.














