Nama : Muhammad Jaisyu Gacaesar
NIM : 6661250143
SERANG, Reportasexpost.com – Stunting merupakan salah satu masalah paling krusial yang dialami oleh Masyarakat Indonesia. Pada awal tahun 2025, Dinas Kesehatan Kota Serang (DINKES) mencatat sekitar 1.093 kasus anak yang mengalami stunting. Hal ini disebabkan karena kurangnya nutrisi pada ibu hamil serta ASI eksklusif yang tidak memenuhi syarat pada balita. Dalam kasus ini, kurangnya minat masyarakat untuk mengonsumsi ikan juga salah satu penyebab masyarakat memiliki stunting.
Ikan dengan ayam memiliki gizi yang berbeda. Walaupun keduanya memiliki protein yang baik, tetapi ikan lebih unggul dalam asam lemak omega-3, yang mana ini berguna untuk mendukung pertumbuhan tinggi anak, memperkuat tulang, dan mendukung fungsi otak anak. Selain itu, ikan juga memiliki vitamin A, D, B kompleks, dan mineral (zat besi, seng/zinc, kalsium, fosfor). Walaupun ikan kaya akan gizi, tetapi sangat disayangkan Masyarakat Indonesia khususnya di Provinsi Banten kurang dalam mengonsumsi ikan. Kepala DKP Provinsi Banten, Eli Susiyanti, mengungkap bahwa konsumsi ikan Masyarakat Banten baru mencapai 47,6 kg/tahun, di bawah rata-rata nasional yang sudah 56 kg/tahun. Hal ini sangat disayangkan karena Banten memiliki potensi kelautan besar dengan luas perairan laut mencapai ±11.486,72 km² dan panjang pantai ±914 km. Tetapi masih banyak masyarakat Provinsi Banten yang masih belum minat untuk mengonsumsi ikan laut. Banyak beranggapan bahwa ikan memiliki bau yang amis sehingga membuat sebagian warga enggan mengonsumsinya. Selain itu, banyak warga yang mengolah ikan dengan cara digoreng, yang mana cara ini dapat mengurangi kandungan gizi pada ikan tersebut.
Untuk mengatasi masalah hal ini, perlu adanya pengolahan inovasi ikan tanpa mengurangi gizi. Kami, Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jurusan Administrasi Publik, Angkatan 2025 bersosialisasi kepada Masyarakat Kota Serang tepatnya di Perumahan Taman Alam Lestari, RT/RW 16/09, Kelurahan Lialang, Kecamatan Taktakan untuk mengedukasi pentingnya pengolahan ikan dengan benar tepatnya membuat bakso ikan gluten free. Dengan dihadiri oleh ibu warga Perumahan Taman Alam Lestari, kami mengedukasi bagaimana ikan dapat membantu merangsang pertumbuhan otak pada anak, dapat menyehatkan jantung, serta baik untuk pencernaan. Selain itu, kami memberitahukan bagaimana cara membuat bakso ikan dengan mengganti tepung terigu menjadi tepung mocaf. Tepung mocaf adalah tepung singkong yang diolah melalui fermentasi dan bebas gluten, sehingga cocok bagi penderita celiac, autisme, serta yang menjalani pola makan sehat. Selain tepung, kami juga memberitahukan untuk mengganti penyedap rasa (micin), dengan kaldu jamur. Kaldu jamur terbuat dari ekstrak jamur yang dikeringkan dan diolah menjadi bubuk atau serpihan. Kaldu jamur memiliki asam glutamat alami sehingga memberikan rasa gurih (umami) yang mendalam. Selain memberikan bagaimana cara membuat bakso ikan gluten free, kami juga memberikan hasil pembuatan bakso ikan gluten free kepada warga yang hadir agar menjadi penilaian untuk warga setempat.
Selain berperan untuk mengatasi stunting melalui pemanfaatan kandungan gizi pada ikan laut. Bakso ikan gluten free juga bisa dijadikan sumber usaha bagi para ibu-ibu di Perumahan Taman Alam Lestari, Kecamatan Taktakan, Kota Serang. Produk bakso ikan gluten free diperkenalkan kepada para ibu rumah di Perumahan Taman Alam Lestari, melalui kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jurusan Administrasi Publik, Angkatan 2025 dengan harapan bisa menjadi nilai guna usaha kecil-kecilan bagi para ibu rumah tangga. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan mengenai pentingnya mengonsumsi ikan serta peluang usaha mikro makanan bergixi. Diharapkan melalui pelatihan ini, ibu-ibu warga Perumahan Taman Alam Lestari mampu mengolah pangan lokal berbasis ikan laut untuk keluarganya, sekaligus mendukung peningkatan angka konsumsi ikan laut di wilayah setemoat.














